Categories
Kesehatan

Mengenal Sindrom Brugada, Penyumbang Kematian Jantung Mendadak Terbesar di Asia Tenggara

petbody.us, Jakarta – Pernahkah Anda mendengar sindrom Brugada? Sindrom ini merupakan salah satu penyebab utama kematian jantung mendadak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Sindrom Brugada merupakan penyakit langka dimana penderitanya mengalami gangguan irama jantung atau biasa disebut aritmia, lapor Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gangguan irama jantung ini juga dapat menyebabkan serangan jantung mendadak dan berujung pada kematian.

Dr Sanu Bodhi Rajaru, SpJP(K), PhD, ahli jantung dan konsultan aritmia, mengatakan orang yang paling rentan terkena sindrom Brugada adalah laki-laki.

“Yang paling terkena dampaknya adalah laki-laki berusia 40-an,” jelas Snow dalam jumpa pers, Senin, 25 Maret 2024.

Orang Asia dengan sindrom Brugada juga memiliki risiko gagal jantung yang jauh lebih tinggi, mencapai 15%, sedangkan risiko pada orang keturunan bule adalah 10%.

Faktor risiko penyakit ini masih belum sepenuhnya dipahami, “Sindrom Brogada 20-30 persennya genetik, kita masih belum tahu 70 persennya,” kata Snow.

Orang dengan sindrom ini tidak mengalami gejala atau keluhan. Semuanya tampak normal kecuali kekambuhan atau manifestasi sindrom Brugada.

Yang dapat diperhatikan pada penyakit ini adalah detak jantungnya meningkat seiring berjalannya waktu, “awalnya hanya satu atau dua detak, satu atau dua kali, lalu tiba-tiba yang disebut jantung adalah serangan, dan berakibat fatal”. mendengarkan

Penderita sindrom Brugada berisiko mengalami serangan jantung dan serangan jantung mendadak saat tidur dan demam.

Sindrom ini diketahui kambuh di malam hari, sehingga banyak kasus di mana pasien bisa mengalami serangan jantung bahkan kematian saat tidur.

Prevalensi sindrom Brugada adalah serangan jantung sering terjadi pada malam hari, kata Snow. Hal ini disebabkan oleh gangguan saraf otonom dan simpatis yang belum diketahui secara pasti mengapa lebih sering muncul pada malam hari. Jadi, para ahli bisa menyimpulkannya berdasarkan statistik saja.

Sementara itu, jika terjadi demam, penderita sindrom Brugada juga mengalami aritmia jantung yang berujung pada serangan jantung mendadak, “demam memberikan peningkatan rangsangan yang menyebabkan aritmia jantung.”

Meski demam yang Anda alami tidak tinggi, namun tetap meningkatkan risiko mengalami gangguan irama jantung. Itu sebabnya Dr. Snow menganjurkan agar penderita sindrom Brugada selalu mengonsumsi parasetamol segera setelah merasakan gejala demam.

Sindrom Brugada dikenal sebagai penyakit yang tidak memiliki gejala atau keluhan. Oleh karena itu, diagnosis tepat waktu sangat penting.

Dengan EKG atau elektrokardiogram untuk mendeteksi sindrom ini, dokumentasi EKG. Jika diduga ada irama jantung yang tidak normal, diagnosis sindrom Brugada dapat dipertimbangkan, kata Snow. “Jadi EKG adalah tes yang sangat sederhana namun sangat penting,” kata Snow.

Deteksi lain juga dapat dilakukan dengan USG untuk mencari gagal jantung. Cara ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang berbakat di bidang olahraga atau atlet.

Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan RI, bentuk deteksi dini lain yang dapat dilakukan adalah tes darah atau tes air liur untuk mengetahui adanya mutasi genetik penyebab sindrom Brugada.